SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN SUBSTANTIF
SAMPLING AUDIT adalah penerapan prosedur pengauditan atas unsur-unsur dalam suatu populasi kurang dari 100%, seperti saldo rekening atau kelompok transaksi, dengan tujuan untuk mengevaluasi sejumlah karakteristik populasi.
Ketidakpastian, risiko sampling, dan risiko audit
Auditor dimungkinkan untuk menerima sejumlah ketidakpastian dalam pengujian subtantif, apabila waktu dan biaya untuk memeriksa unsur-unsur dalam populasi menurut pertimbangannya akan lebih besar daripada akibat kemungkinan menyatakan pendapat yang keliru dari hasil pemeriksaan hanya pada data sampel.
SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN SUBTANTIF dipengaruhi baik oleh risiko sampling maupun risiko nonsampling. Risiko sampling yang berkaitan dengan pengujian subtantif adalah: (1) Risiko keliru menerima (biasa disebut risiko beta), (2) Risiko keliru menolak (biasa disebut risiko alpha).
pendekatan SAMPLING STATISTIK
Ada dua pendekatan sampling statistik yang bisa digunakan oleh auditor dalam PENGUJIAN SUBTANTIF, yaitu:
(1) sampling probabilitas proporsional dengan ukuran (PPU), dan
(2) Sampling variabel klasik.
Perbedaan kedua pendekatan tersebut ialah bahwa sampling PPU didasarkan pada teori sampling atribut, sedangkan sampling variabel klasik didasarkan pada teori distribusi normal.
SAMPLING nonstatistik DALAM PENGUJIAN SUBTANTIF
Perbedaan besar antara sampling statistik dan sampling nonstatistik adalah dalam tahapan-tahapan penentuan ukuran sampel dan evaluasi atas hasil sampel. Sampling statistik lebih obyektif, sedangkan nonstatistik lebih subyektif.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN SUBSTANTIF silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Sampling Audit Dalam Pengujian Substantif
Resiko Deteksi Dan Rancangan Pengujian Substantif
Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan dapat mendeteksi salah saji material yang ada dalam suatu asersi.
Evaluasi Atas Rencana Tingkat Pengujian Substantif
Apabila tingkat risiko pengendalian akhir sama dengan tingkat risiko pengendalian awal, auditor bisa melangkah ketahap perancangan pengujian substantif spesifik berdasarkan rencana tingkat pengujian substantif yang telah ditetapkan sebagai komponen keempat dari strategi audit awal.
Merevisi Rencana Resiko Deteksi
Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima akhir (setelah direvisi) ditetapkan untuk setiap asersi dengan cara yang sama seperti rencana risiko deteksi, kecuali bahwa penetapannya didasarkan pada risiko pengendalian sesungguhnya atau akhir bukan pada rencana tingkat risiko pengendalian untuk asersi yang bersangkutan.
Penetapan Resiko Deteksi Untuk Pengujian Substantif Yang Berbeda Atas Asersi Yang Sama
Resiko deteksi menyangkut risiko bahwa semua pengujian substantif yang digunakan untuk mendapatkan bukti tentang suatu asersi, secara kolektif akan gagal dalam mendeteksi salah saji material.
Perancangan Pengujian Substantif
Untuk mendapatkan dasar yang masuk akal dalam memberi pendapat atas laporan keuangan kliennya, auditor harus memperoleh bukti kompeten yang cukup seperti disyaratkan oleh standar pekerjaan lapangan ketiga dalam standar auditing. Perencanaan pengujian substantif meliputi penentuan (1) sifat, (2) saat, dan (3) luas pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko yang dapat diterima untuk setiap asersi.
Ringkasan Hubungan Antara Komponen Risiko Audit Dengan Sifat, Saat, Dan Luasnya Pengujian Substantif
Perancangan pengujian substatif meliputi penentuan sifat, saat, dan luasnya pengujian substantif untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan. Auditor menghubungkan asersi-asersi, tujuan, khusus audit,dan pengujian substantif dalam mengembangkan program audit tertulis untuk pengujian substantif.
Pengembangan Program Audit Untuk Pengujian Substantif
Tujuan suatu audit laporan keuangan secara keseluruhan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah disajikan secara wajar, dalam segala hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Program Audit Untuk Pengujian Substantif
Program audit adalah daftar prosedur-prosedur audit yang harus dilakukan. Sebagai tambahan daftar prosedur audit, setiap program audit harus memiliki kolom-kolom untuk :
Suatu referensi silang ke kertas kerja lain yang berisi bukti yang diperoleh dari setiap prosedur (bila memungkinkan).
Paraf auditor yang malaksanakan masing-masing prosedur.
Tanggal pelaksanaan prosedur diselesaikan.
Rerangka Umum Pengembangan Program Audit Untuk Pengujian Substantif
Apabila program audit dibuat untuk piutang dagang dan investasi jangka pendek, maka langkah audit yang perlu dilakukan :
Verifikasi kebeneran penjumlahan dan tentukan kecocokan antara rekening control piutang dagang.
Verifikasi kebenaran penjumlahan dan tentukan kecocokan rekening investasi di buku besar dengan daftar detil investasi.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi RISIKO DETEKSI DAN RANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Risiko Deteksi Dan Rancangan Pengujian Substantif
MATERIALITAS, RISIKO, dan STRATEGI AUDIT AWAL
Materialitas merupakan dasar penerapan dasar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan
Konsep MATERIALITAS
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas suatu pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
Mengapa Konsep MATERIALITAS Penting dalam Audit atas Laporan keuangan?
Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan (guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.
Pertimbangan Awal tentang MATERIALITAS
Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Penentuan materialitas ini, yang seringkali disebut dengan materialitas perencanaan, mungkin dapat berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi temuan audit karena (1) keadaan yang melingkupi berubah (2) informasi tambahan tentang klien dapat diperoleh selama berlangsungnya audit.
MATERIALITAS pada tingkat Laporan Keuangan
Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. (1) auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan (2) pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.
MATERIALITAS pada Tingkat Saldo akun
Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material.
Alokasi MATERIALITAS laporan Keuangan ke Akun
Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.
Hubungan antara MATERIALITAS dengan bukti audit
Materialitas merupakan satu diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan ( kuantitas ) bukti audit. Dalam membuat generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan ( hubungan terbalik ).
RISIKO AUDIT
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA Seksi 312 risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
RISIKO Audit Keseluruhan ( Overall Audit Risk )
Risiko audit dapat ditaksir secara kuantitatif atau kualitatif. Dalam penentuan risiko audit keseluruhan, auditor juga menyatakan tingkat kepercayaan (level of confidence).
RISIKO Audit Individual
Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara indivual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepada akun-akun yang berkaitan.
Unsur RISIKO Audit
Terdapat tiga unsur risiko audit : (1) Risiko Bawaan, (2 ) Risiko Pengendalian, (3) Risiko Deteksi
Penggunaan Informasi RISIKO Audit
Taksiran risiko audit pada tahap perencanaan audit dapat digunakan oleh auditor untuk menetapkan jumlah bukti audit yang akan diperiksa untuk membuktikan kewajaran penyajian saldo akun tertentu.
Risiko audit individual = risiko bawaan x risiko pengendalian x risiko deteksi
Dari formula tersebut, risiko deteksi dapat dihitung dengan formula berikut ini :
Risiko deteksi = Risiko audit individual
Risiko bawaan x Risiko pengendalian
Hubungan antar Unsur RESIKO
Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian.
Hubungan antara MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, dan BUKTI AUDIT
Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, risiko audit, dan bukti audit digambarkan sebagai berikut :
1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang di kumpulkan.
2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
a. Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
b. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama
STRATEGI AUDIT AWAL
Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam : (1) Pendekatan Terutama Substantif, (2) Pendekatan Risiko Pengendalian Rendah.
Unsur STRATEGI AUDIT AWAL
Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor menetapkan empat unsur berikut ini :
1. Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
2. Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
3. Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
4. Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi MATERIALITAS, RISIKO, dan STRATEGI AUDIT AWAL silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Materialitas, Risiko, dan Strategi Audit Awal
Pengujian Sistem Pengolahan Data Elektronik
A. Perangkat Keras Komputer
Perangkat keras adalah komponen fisik yang digunakan dalam sistem. Konfigurasi utama dalam perangkat keras ini adalah central processing unit (CPU) yang terdiri dari unit pengontrol, unit penyimpanan internal, arithmatic-logic-unit. Selain CPU, ada juga perangkat untuk input dan output.
B. Perangkat Lunak Komputer
Komponen ini terdiri dari program-program dan penggerak yang memfasilitasi pemrograman dan pengoperasian komputer. Perangkat lunak yang berkaitan dengan pekerjaan auditor adalah program sistem dan aplikasi.
Metoda Pengorganisasian Dan Pengolahan Data
A. Metoda Pengorganisasian Data. Metoda pengorganisasian data menyangkut bagaimana data diorganisasi dalam file komputer.
B. Metoda Pengolahan Data. Metoda pengolahan data berhubungan dengan cara data dimasukkan ke dalam dan diproses ke komputer.
Pengaruh Pde Atas Struktur Pengendalian Intern
Saat ini, semakin banyak perusahaan yang menggunakan komputer baik sebagian ataupun keseluruhan sistem akuntansinya. Berapapun luas pemanfaatan komputer dan apapun metoda pengolahan data yang digunakan, manajemen betanggung jawab untuk menetapkan dan menyelenggarakan struktur pengendalian intern (SPI) yang tepat.
Perbedaan Antara Pengolahan Dengan Komputer Dan Pengolahan Secara Manual
Perbedaan antara pengolahan dengan komputer dan pengolahan secara manual yang berpengaruh terhadap SPI:
Sistem PDE bisa menghasilkan alur transaksi yang tersedia untuk tujuan audit hanya untuk jangka waktu yang pendek.
Dalam sistem komputer hanya terdapat sedikit bukti dokumen yang dihasilkan dari prosedur pengendalian dibandingkan dengan sistem manual.
Informasi dalam sistem manual bisa dilihat secara nyata, sebaliknya file dalam sistem PDE hanya bisa dilihat oleh mesin dan tidak bisa dibaca manusia tanpa bantuan komputer.
Laporan akuntansi yang dihasilkan komputer biasanya lebih tepat waktu sehingga manajemen bisa memperoleh alat bantu yang efektif dalam melakukan supervisi dan review atas operasi perusahaan.
Pengendalian Umum
Pengendalian umum meliputi: (1) Pengendalian Organisasi dan Operasi, (2) Pengendalian Pengendalian Perangkat Keras dan Sistem Perangkat Lunak, (3) Pengendalian akses, (4) Pengendalian data dan prosedur.
Pengendalian Aplikasi
Pengendalian aplikasi meliputi: (1) Pengendalian Input, (2) Otorisasi, (3) Konversi data input, (4) Koreksi kesalahan, (5) Pengendalian Pengolahan, (6) Pengendalian Output.
Pemahaman Tentang SPI
Apabila PDE digunakan dalam aplikasi akuntansi, maka auditor harus mendapatkan pemahaman tentang struktur SPI.
Menetapkan Risiko Pengendalian
Dalam proses penetapan risiko pengendaian pada struktur pengendalian PDE diperlukan hal-hal berikut:
Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur-prosedur untuk memperoleh pemahaman.
Mengidentifikasi salah saji potensialyang mungkin terjadi dalam asersi-asersi.
Mengidentifikasi prosedur pengendalian yang diperlukan untuk mencegah atau mendeteksi salah saji tersebut.
Melakukan uji pengendalian.
Mengevaluasi bukti dan menetapkan risiko.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi PENGUJIAN SISTEM PENGOLAHAN DATA ELEKTRONIK silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Pengujian Sistem Pengolahan Data Elektronik
PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN
Arti penting pengendalian intern bagi manajemen dan akuntan publik telah diakui oleh berbagai literatur profesional selama bertahun-tahun. Sebuah publikasi dari AICPA pada tahun 1974 berjudul Internal Control, menyebutkan faktor-faktor pendorong atas semakin luasnya pengakuan tentang pentingnya pengendalian intern.
Definisi,konsep-konsep dasar, dan komponen
Laporan COSO mendefinisikan pengendalain intern sebagai berikut :
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personil satuan usaha lainnya, yang dirancang untuk mendapatkan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal-hal berikut : (1) Keandalan pelaporan keuangan,(2) Kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku,(3) Efektifitas dan efisiensi operasi.
Konsep-konsep dasar yang terkandung dalam definisi diatas adalah sebagai berikut : (1) Pengendalian intern adalah suatu proses, (2) Pengendalian intern dipengaruhi oleh manusia, (3) Pengendalian intern hanya diharapkan memberikan keyakinan memadai, (4) Pengendalian intern adalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan dalam berbagai hal yang satu sama lain tumpang tindih yaitu pelaporan keuangan, kesesuaian, dan operasi.
Untuk memberikan rerangka atau struktur yang perlu dipertimbangkan oleh banyak pengendalian intern dalam upaya mencapai tujuan satuan usaha, COSO merumuskan lima komponen pengendalian intern yang saling berkaitan sebagai berikut : (1 )lingkungan pengendalian, (2) Perhitungan resiko, (3) Informasi dan komunikasi, (4) aktifitas pengendalian, (5) monitoring.
Tujuan satuan usaha dan pengendalian intern yang relevan dengan mengaudit
Manajemen menerapkan pengendalian intern guna memberikan keyakian memadai untuk mencapai tiga kategori tujuan : (1) Keandalan informasi laporan keuangan, (2) kesesuaian dengan undang-undang yang berlaku, (3) efektifitas dan efisiensi operasi.
Keterbatasan struktur pengendalian intern perusahaan
Pengendalian intern hanya dapat memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan komisaris sehubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan. Alasannya adalah karena keterbatasan bawaan (inherent limitations) pada setiap struktur pengendalian intern perusahaan berikut : (1) kesalahan dalam pertimbangan, (2) kemacetan, (3) kolusi, (4) pelanggaran oleh manajemen, (5) biaya dan manfaat.
Peran dan tanggungjawab
Laporan COSO menyimpulkan bahwa setiap orang dalam organisasi memiliki tanggungjawab terhadap struktur pengendalian intern organisasi, dan merupakan bagian dari struktur tersebut. Pihak-pihak yang bertanggungjawab atas SPI dan peranannya masing-masing adalah sebagai berikut : (1) manajemen, (2) dewan komisaris dan komite audit, (3) auditor intern, (4) personil perusahaan lainnya, (5) akuntan independent atau akuntan oublik, (6) pihak luar lainnya.
Penerapan komponen-komponen spi untuk perusahaan kecil dan menengah
SA 319 menyebutkan faktor-faktor berikut harus dipertimbangkan dalam memutuskan bagaimana masing-masing komponen SPI : (1) Besarnya satuan usaha, (2) Karakteristik organisasi dan kepemilikan, (3) Sifat kegiatan usaha, (4) Keanekaragaman dan kompleksitas operasi, (5) Metoda pengolahan data, (6) Persyaratan perundang-undangan yang harus dipatuhi.
Mendapatkan pemahaman tentang komponen-komponen struktur pengendalian intern
Metoda yang dilakukan auditor untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan kedua meliputi tiga kegiatan berikut :
• Mendapatkan pemahaman yang cukup tentang struktur pengendalian intern yang berlaku pada perusahaan klien untuk merencanakan audit.
• Memperhitungkan risiko pengendalian untuk setiap asersi penting yang terdapat pada saldo rekening kelompok transaksi dan komponen pengungkapan dalam laporan keuangan.
• Merancang pengujian substantif untuk setiap asersi laporan keuangan yang signifikan.
Pemahaman tentang tentang perhitungan risiko
Auditor harus menetukan bagaimana manajemen melakukan identifikasi risiko-risiko yang relevan terhadap penyajian secara wajar laporan keuangan, kesadaran yang mempengaruhinya dalam memperhitungkan signifikan tidaknya risiko-risiko tersebut, bagaimana hal itu dicerminkan dalam aktifitas-aktifitas pengendalian atau tindakan-tindakan lain untuk mengendalikan risiko tersebut.
Pemahaman tentang informasi dan komunikasi
SA 319 menyebutkan bahwa auditor harus mendapatkan pemahaman tentang sistem informasi yang relevan terhadap laporan keuangan untuk mengetahui :
• Kelompok transaksi dalam perusahaan yang signifikan bagi laporan keuangan.
• Bagaimana timbulnya transaksi tersebut.
• Catatan akuntansi, dokumen pendukung, informasi yang dapat dibaca komputer, dan rekening tertentu dalam laporan keuangan yang terkait dalam pengolahan dan pelaporan transaksi .
• Proses pelaporan keuangan yang digunakan dalam mempersiapkan laporan keuangan perusahaan, termasuk estimasi akuntansi yang signifikan dan pengungkapannya.
Pemahaman tentang aktivitas pengendalian
Didalam mendapatkan pemahaman tentang komponen-komponen struktur pengendalian intern seperti lingkungan pengendalian, perhitungan risiko, informasi dan komunikasi, serta pemonitoran, auditor telah mulai mengetahui tentang sejumlah aktivitas pengendalian.
Pemahaman pemonitoran
Auditor perlu memahami jenis-jenis aktivitas yang digunakan perusahaan untuk memonitor efektivitas komponen-komponen struktur pengendalian intern dalam memenuhi tujuan laporan keuangan.
Prosedur-prosedur untuk memperoleh pemahaman
Prosedur-prosedur untuk memperoleh pemahaman tentang struktur pengendalian intern terdiri dari :
• Mereview pengalaman masa lalu dengan klien
• Mengajukan pertanyaan kepada manajemen yang sesuai, pengawas, serta staf.
• Menginspeksi dokumen dan catatan-catatan
• Mengobservasi aktifitas dan operasi perusahaan
Pendokumentasian pemahaman
Pendokumentasian pemahaman tentang komponen-komponen struktur pengendalian intern harus dilakukan pada setiap audit yang dilakukan.
Daftar pertanyaan
Daftar pertanyaan adalah serangkaian pertanyaan tentang kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang dipandang perlu oleh auditor untuk mencegah terjadinya salah saji dalam laporan keuangan.
Bagan alir ( flowchart )
Bagan alir atau flowchart ialah diagram skematik dengan menggunakan simbol-simbol standar, menghubungkan garis alir, disertai anortasi, yang menggambarkan tahapan-tahapan yang dilalui dalam pengolahan informasi melalui sistem akuntansi.
Memorandum naratif
Memorandum Naratif (narratif memoranda) adalah komentar tertulis yang berisi uraian mengenai pertimbangan auditor tentang SPI.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Pemahaman Struktur Pengendalian Intern
Penerimaan Penugasan dan Perencanaan Audit
Dalam setiap kegiatan audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil, selalu memiliki empat tahap kegiatan, yakni: (1) PENERIMAAN PENUGASAN audit, (2) PERENCANAAN AUDIT, (3)Pelaksanaan pengujian audit,(4) Pelaporan temuan.
PERENCANAAN AUDIT
Standar pertama dari GAAS(General Accepted Auditing Standard)-di Indonesia SPAP untuk audit lapangan adalah perencanaan yang memadai.
Berikut adalah tiga alasan utama mengapa seorang auditor harus mempersiapkan rencana kontrak kerja yang tepat sehingga (1)auditor dapat memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada,(2) membantu menjaga agar biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar,(3) serta menghindari kesalahpahaman dengan klien.
PERENCANAAN AUDIT Awal
PERENCANAAN AUDIT awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus dilakukan terlebih dahulu dalam audit. Keempatnya adalah sebagai berikut: (1) Auditor haerus memutuskan apakah akan menerima seorang klien baru atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah ada sekarang, (2) Auditor harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan audit, informasi ini akan mempengaruhi bagian lain dari proses perencanaan, (3) Auditor memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan untuk menghindari kesalahpahaman. (4) Dipilihnya staf untuk penugasan, termasuk bila dibutuhkannya spesialis audit.
Merancang pendekatan audit
(1)Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal, (2) Memahami bisnis dan industri klien, (3) Menilai resiko bisnis klien, (4) Menetapkan meterialitas, dan menilai resiko akseptabilitas audit serta resiko inhern, (5) Memahami pengendalian intern, dan menilai resiko pengendalian, (6) Menyusun seluruh rencana serta program audit.
Pelaksanaan Pengujian Audit
Tahap ketiga dalam suatu laporan keuangan adalah melaksanakan pengujian audit. Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan.
Pelaporan Temuan
Tahap terakhir dari suatu audit adalah laporan temuan. Pada tahap ini harus dilaksanakan standar umum dan standar pelaporan dari standar auditing.
PENERIMAAN PENUGASAN
Dalam profesi akuntan publik, terjadi persaingan yang cukup ketat antar kantor akuntan publik untuk mendapatkan klien. Klien disini merupakan klien baru maupun klien lama( yang sudah ada)yang diharapkan akan melanjutkan memberikan penugasan audit pada tahun berikutnya.
Pergantian auditor bisa terjadi karena berbagai alasan, yaitu: (1) Klien merupakan hasil merger antara beberapa perusahaan yang semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda, (2) Ada kebutuhan untuk mendapat perluasan jasa profesional, (3) Tidak puas terhadap kantor akuntan publik yang lama, (4) Ingin mencari auditor dengan honorarium audit yang lebih murah, (5) Penggabungkan antara beberapa kantor akuntan publik.
Evaluasi Atas Integritas Manajemen
Tujuan pokok suatu audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan suatu pendapat tentang laporan keuangan klien. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa auditor hanya akan menerima penugasan apabila terdapat jaminan yang memadai bahwa manajemen klien bisa dipercaya.
Komunikasi Dengan Auditor Pendahulu
Bagi klien yang pernah diaudit oleh auditor lain, pengetahuan tentang manajemen klien yang dimiliki oleh auditor pendahulu merupakan informasi penting bagi auditor pengganti.
Mengajukan Pertanyaan Pada Pihak Ketiga
Informasi tentang integritas manajemen dapat pula diperoleh dari orang-orang yang mengenal klien, seperti; penasehat hukum klien,bankir, dan pihak-pihak lain dalam lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki hubungan bisnis dengan calon klien.
Mereview Pengalaman Masa Lalu Dengan Klien
Sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan penugasan dengan klien audit, auditor harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen klien di waktu yang lalu.
Mengidentifikasi keadaan khusus dan resiko tidak biasa
Yaitu berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut; (1) Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Audit, (2) Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien, (3) Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien, (4) Mengembangkan Ekspektasi atau Harapan, (5) Melakukan Perhitungan atau Perbandingan, (6) Analisis Data dan Identifikasi Perbedaan Signifikan, (7) Menyelidiki Selisih Tak Diharapkan yang Signifikan, (8) Menentukan Pengaruh atas Perencanaan Audit.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi PENERIMAAN PENUGASAN dan PERENCANAAN AUDIT silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Penerimaan Penugasan dan Perencanaan Audit
Penetapan resiko pengendalian dan pengujian pengendalian
Penaksiran RESIKO PENGENDALIAN adalah proses evaluasi efektifitas desain dan operasi pengendalian intern entitas dalam rangka pencegahan atau pendeteksian salah saji material dalam laporan keuangan.
PENGUJIAN PENGENDALIAN
PENGUJIAN PENGENDALIAN adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektifitas desain dan/atau operasi pengendalian intern.
PENGUJIAN PENGENDALIAN Bersamaan ( Concurrent Tests of Controls )
Pengujian pengendalian bersamaan dilaksanakan oleh auditor bersamaan waktunya dengan usha pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern. Pengujian ini dilakukan oleh auditor, baik dalam strategi pendekatan terutama substantif maupun dalam pendekatan risiko pengendalian rendah.
PENGUJIAN PENGENDALIAN Tambahan atau Pengujian Pengendalian yang Direncanakan.
Pengujian pengendalian dilakukan oleh auditor dalam pekerjaan lapangan. Pengujian pengendalian ini dapat memberikan bukti tentang penerapan semestinya kebijakan dan prosedur pengendalian secara konsisten sepanjang tahun yang diaudit.
Jenis PENGUJIAN PENGENDALIAN
Jenis pengujian pengendalian yang dapat dipilih auditor dalam pelaksanaan pengujian pengendalian adalah : (1) Permintaan keterangan, (2) Pengamatan, (3) Inspeksi, (4) Pelaksanaan kembali.
Waktu Pelaksanaan PENGUJIAN PENGENDALIAN
Waktu pelaksanaan pengujian pengendalian berkaitan dengan kapan prosedur tersebut dilaksanakan dan bagian periode akuntansi dimana prosedur tersebut berhubungan. Pengujian pengendalian tambahan dilaksanakan dalam pekerjaan interim, yang dapat dalam jangka waktu beberapa bulan sebelum akhir tahun yang diaudit.
Lingkup Pengujian pengendalian
Semakin luas lingkup pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor, akan dapat dikumpulkan bukti lebih banyak mengenai efektifitas pengendalian intern. Semakin banyak orang yang dimintai keterangan tentang pengendalian intern atas asersi tertentu, semakin banyak bukti yang dapat dikumpulkan oleh auditor untuk menilai efektifitas pengendalian intern atas asersi tersebut.
Program audit untuk PENGUJIAN PENGENDALIAN
Keputusan yang diambil oleh auditor berkaitan dengan jenis, lingkup, dan saat pengujian pengendalian harus didokumentasikan dalam suatu program audit dan kertas kerja yang bersangkutan.
Kerja sama dengan auditor intern dalam PENGUJIAN PENGENDALIAN
Bilamana auditor independen melakukan audit atas laporan keuangan entitas yang memiliki fungsi audit intern, auditor independen dapat (1) melakukan koordinasi pekerjaan auditnya dengan auditor intern, dan/atau (2) menggunakan auditor intern untuk menyediakan bantuan langsung dalam audit.
Pengujian dengan tujuan ganda ( dual-purpose tests )
Jenis pengujian semacam ini diebut dengan istilah “pengujian dengan tujuan ganda”. Bilamana jenis pengujian ini dilaksanakan, auditor harus mendesain pengujiannya sedemikian rupa sehingga ia dapat mengumpulkan bukti tentang efektifitas pengendalian intern sekaligus mendapatkan bukti tentang kekeliruan moneter dalam akun.
Penentuan RESIKO deteksi
Dalam tahap-tahap audit atas laporan keuangan, penentuan risiko deteksi terletak pada tahap auditor mendesain pengujian substantif.
Evaluasi terhadap Tingkat Pengujian Substantif yang Direncanakan
Setelah memperoleh pemahaman atas pengendalian intern yang relevan dengan pelaporan keuangan dan setelah menaksir risiko pengendalian untuk suatu asersi laporan keuangan, auditor harus membandingkan tingkat risiko pengendalian sesungguhnya atau final dengan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk suatu asersi tersebut.
Desain pengujian substantif
Menurut standar pekerjaan lapangan ketiga, auditor harus mengumpulkan bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.
Sifat Pengujian Substantif
Sifat pengujian substanif mencakup jenis dan efektifitas prosedur audit yang dilakukan oleh auditor.
Pengembangan program audit untuk pengujian substantif
Laporan keuangan berisi lima golongan asersi : (1) keberadaan atau keterjadian, (2) kelengkapan, (3) hak dan kewajiban, (4) penilaian atau alokasi, (5) penyajian dan pengungkapan.
Rerangka Umum Pengembangan Program Audit untukPengujian Substantif
Dalam pengembangan program audit untuk pengujian substantif, rerangka umum yang dapat dipakai sebagai acuan disajikan sebagai berikut : (1) Tentukan prosedur audit awal ,(2) Tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan , (3) Tentukan pengujian terhadap transaksi rinci , (4) Tenukan pengujian terhadap akun rinci.
Program Audit dalam Perikatan Pertama
Dalam perikatan pertama, penentuan pengujian substantif rinci dalam program audit umumnya belum dapat diselesaikan oleh auditor sampai dengan saat auditor menyelesaikan studi dan evaluasi terhadap pengendalian intern dan setelah tingkat risiko deteksi yang dapat diterima telah ditetapkan untuk setiap asersi signifikan.
Program audit dalam Perikatan Berulang
Dalam perikatan audit berulang, auditor dapat melakukan akses ke program audit yang digunakan dalam audit tahun yang lalu dan kertas kerja yang dihasilkan dari program audit tersebut.
Perbandingan Antara Pengujian Pengendalian Dengan Pengujian Substantif
Salah satu tahap dalam proses audit adalah pelaksanaan pengujian, yang terdiri dari dua pengujian utama : (1) pengujian pengendalian dan (2) pengujian substantif.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi PENETAPAN RESIKO PENGENDALIAN dan PENGUJIAN PENGENDALIAN silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini.
Penetapan resiko pengendalian dan pengujian pengendalian
SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN
Sampling audit yaitu penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo rekening atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo rekening atau kelompok transaksi tersebut.
Ketidakpastian dan SAMPLING AUDIT
Penentuan risiko PENGENDALIAN yang dilakukan auditor berpengaruh terhadap sifat, saat, dan luasnya prosedur pengauditan yang akan digunakan.
Risiko Sampling dan Risiko Non Sampling
Risiko Sampling
Risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yag telah diambil dengan benar tidak mewakili populasi.
Risiko Non Sampling
Risiko non sampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling.
Sampling Non Statistik Dan Sampling Statistik
Perbedaan pokok antara keduanya adalah bahwa dalam sampling statistik digunakan hokum probabilitas untuk mengendalikan risiko sampling. Pemilihan antara kedua tipe tersebut didasarkan atas pertimbangan biaya dan manfaat.
Tehnik-Tehnik SAMPLING AUDIT
Tehnik-tehnik sampling tersebut :
1. Sampling atribut
2. Sampling variable.
Perancangan Sampel Atribut Untuk Pengujian Pengendalian
Tahapan-tahapan dalam rencana SAMPLING statistik untuk PENGUJIAN PENGENDALIAN yaitu : (1) Menentukan tujuan audit, (2) Merumuskan populasi dan unit sampling, (3) Menetapkan atribut-atribut, (4) Menentukan ukuran sampel. (5) Menentukan metoda pemilihan sampel, (6) Melaksanakan rencana sampling, (7) Mengevaluasi hasil sampel
Jenis Sampling Lainnya
Jenis sampling lainnya : (1) Sampling Temuan, (2) Sampling Nonstatistik
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Sampling Audit Dalam Pengujian Pengendalian
TUJUAN, BUKTI dan KERTAS KERJA AUDIT
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum diIndonesia.
Asersi Manajemen Dalam Laporan Keuangan
Asersi(Assertions) adalah pernyataan manajemen yang terkandung didalam komponen laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit.
Asersi Manajemen Dan TUJUAN Audit
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
TUJUAN Khusus Audit
Untuk mendapatkan bukti sebagai pendukung pendapat atas laporan keuangan, auditor merumuskan tujuan –tujuan khusus audit untuk setiap rekening dalam laporan keuangan.
BUKTI Audit
Bukti audit merupakan konsep fundamental dalam auditing. Dalam SA 326.14 menyatakan bahwa bukti audit terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat yang tersedia bagi auditor.
Tujuan Standar Pekerjaan Lapangan Ketiga
Standar pekerjaan lapangan ketiga berbunyi sebagai berikut:
”Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.”
Standar tersebut menyebutkan empat sumber, yaitu: inspeksi, observasi, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi. Sumber-sumber ini berkaitan dengan prosedur auditing menginspeksi, mengobservasi, mengajukan pertanyaan, dan mengkonfirmasi.
Jenis-Jenis Informasi
Didepan telah dijelaskan bahwa bukti audit terdiri dari akunntansi dan informasi penguat. Pada uraian berikut ini akan dibahas tentang delapan jenis informasi penguat yang paling penting adalah, yaitu: (1) Bukti analitis, (2) Bukti Dokumen, (3) Konfirmasi, (4) Pernyataan tertulis.
Prosedur-Prosedur Audit
Prosedur audit merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan atau metode dan teknik yang digunakan oleh auditor untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti audit.
Jenis-Jenis Prosedur Audit
Prosedur audit yang biasa dilakukan auditor yaitu: (1) Prosedur analitis, (2) Menginspeksi, (3) Mengkonfirmasi, (4) Mengajukan pertanyaan, (5) Menghitung, (6) Menelusur, (7) Mencocokkan kedokumen, (8) Mengamati, (9) Melakukan ulang, serta (10) Teknik audit berbantuan komputer.
Penggolongan Prosedur Audit
Prosedur-prosedur audit biasanya diklesifikasikan berdasarkan tujuannya menjadi beberapa kategori, yaitu: (1) Prosedur-prosedur untuk Mendapatkan Pemahaman, (2) Pengujian Pengendalian, (3) Pengujian Substantif.
KERTAS KERJA
Pendokumentasian bukti audit diselenggarakan dalam kertas kerja. Dalam PSA No.15, kertas kerja (SA 339.03)menyebutkan bahwa kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan auditor auditor mengenai audit yang ditempuhnya , pengujian yang dilakukannya, informasi yang diperolehnya, dan kesimpulan yang dibuatnya sehubungan dengan auditnya yang berfungsi untuk:
Menyediakan penunjang utama bagi laporan audit
Membantu auditor dalam melaksanakan dan mensupervisi audit
Menjadi bukti bahwa audit telah dilaksanakan sesuai dengan standar auditing
Jenis-jenis KERTAS KERJA
Berbagai kertas kerja dibuat auditor selama audit berlangsung. Kertas kerja tersebut terdiri dari
1. Daftar saldo pemeriksaan
2. Daftar dan analisis
3. Memorandum dan informasi pendukung, dan
4. Jurnal penyesuaian dan reklasifikasi.
Daftar dan Analisis
Istilah kertas kerja daftar dan kertas kerja analisis bisa dipakai saling menggantikan untuk menunjukkan kertas kerja individual yang berisi bukti-bukti yang mendukung pos-pos yang terdapat dalam daftar saldo pemeriksaan.
Pembuatan KERTAS KERJA
Teknik penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja, yaitu: (1) judul, (2) nomor index, (3) Referensi silang, (4) Tanda pengerjaan (tick mark), (5) Tanda tangan dan Tanggal.
Review atas KERTAS KERJA
Review atas kertas kerja dalam suatu kantor akuntan publik dilakukan pada berbagai tingkat. Pada tahap pertama, review dilakukan oleh pengawas langsung(supervisor) dari si pembuat kertas kerja.
Pengarsipan KERTAS KERJA
Kertas kerja biasanya diarsipkan berdasarkan dua kategori, yaitu: (1) Arsippermanen, (2) Arsip tahun berjalan.
Pemilik dan penyimpan KERTAS KERJA
Kertas kerja adalah milik auditor, namun hak pemilikan auditor atas kertas kerja ini mendapat kendala dari organisasi profesi si auditor sendiri.Kertas kerja disimpan auditor dan ia bertanggungjawab untuk menjaga keamanan dan kerahasiaannya.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi TUJUAN, BUKTI DAN KERTAS KERJA AUDIT silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini.
Tujuan, Bukti dan Kertas Kerja Audit
AUDIT LAPORAN KEUANGAN dan TANGGUNG JAWAB AUDITOR
Hal-hal yang mendasari audit : Hubungan Antara Akuntansi Dengan Pengauditan, data laporan keuangan harus bisa diverifikasi.
Penyebab terjadinya resiko
Penyebab terjadinya resiko informasi besar kemungkinan karena ketidaktepatan laporan keuangan. Beberapa faktor penyebab menyebabkan hal tersebut adalah : Informasi Diterima dari Pihak Lain, Bias dan Motivasi Pembuat Informasi, Volume Data, Kerumitan Transaksi.
Cara Mengurangi Resiko Informasi
Ada tiga pilihan yang mungkin dilakukan untuk mengurangi resiko informasi yaitu : Pemakai Laporan Melakukan Sendiri Verifikasi atas Informasi, Pemakai Membebankan Risiko Informasi pada Manajemen, Disediakan Laporan Keuangan Yang telah Diaudit.
Manfaat ekonomis suatu audit
Manfaat ekonomis suatu audit laporan keuangan antara lain: Akses ke Pasar Modal, Biaya Modal Menjadi Lebih Rendah, Pencegah Terjadinya Ketidakefisienan dan Kecurangan, Perbaikan dalam Pengendalian dan Operational.
Keterbatasan pengauditan
Tidak ada audit yang dapat memberi jaminan penuh bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material yang timbul dari kesalahan pengolahan data atau kesalahan pertimbangan dalam memilih dan menerapkan prinsip akuntansi.
Pihak yang berinteraksi dengan Audior
Dalam suatu audit atas laporan, auditor menjalin hubungan profesional dengan berbagai pihak yaitu : manajemen, dewan komisaris dan komite audit, auditor intern, pemegang saham.
Standar Auditing
Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) sebagai organisasi profesi berkewajiban untuk menetapkan standar auditing. Untuk melaksanakan tugas tersebut IAI membentuk Dewan Standar Audit yang ditetapkan sebagai badan teknis senior dari IAI untuk menerbitkan pernyataan-pernyataan tentang standar auditing. Dewan ini juga berkewajiban untuk membuat pedoman penerapan pernyataan standar auditing bagi para auditor dengan menerbitkan penafsiran atau interpretasi.
TANGGUNG JAWAB AUDITOR dan kesenjangan ekspektasi
TANGGUNG JAWAB AUITOR dan Kesenjangan ekspektasi sebagian besar berhubungan dengan tiga hal : menemukan dan melaporkan kekeliruan dan ketidak beresan, mendeteksi dan melaporkan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien, melaporkan apabila terdapat ketidak pastian mengenai kemampuan perusahaan klien untuk melanjutkan usahannya atau mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi AUDIT LAPORAN KEUANGAN dan TANGGUNG JAWAB AUDITOR silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
AUDIT LAPORAN KEUANGAN dan TANGGUNG JAWAB AUDITOR
Etika Profesional
ETIKA dan moralitas
ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethos yang berarti “karakter”. Moralitas berasal dari bahasa latin yaitu dari kata mores yang berarti “kebiasaan”.
ETIKA dibedakan 2 macam, yaitu: Etika umum dan Etika Profesional.
Komposisi Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia
Kode etik ikatan akuntan indonesia yang ditetapkan dalam kongres VIII Ikatan Akuntan Indonesia di Jakarta tahun 1998 terdiri dari: Prinsip Etika, Aturan Etika, Interpretasi Aturan Etika.
Prinsip – Pinsip Etika
Kode etik ikatan akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika, sebagai berikut:
1. Tanggungjawab Profesi
2. Kepentingan Umum (publik)
3. Integritas
4. Obyektivitas
5. Kompetensi dan kehati-hatian professional
6. Kerahasiaan
7. Perilaku professional
8. Standar teknis
Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik
Aturan ini harus diterapkan oleh anggota Ikatan Akuntan Indonesia – Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP) dan staf profesional IAI-KAP maupun bukan anggota IAI-KAP yang bekerja pada suatu kantor Akuntan Publik (KAP).
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi ETIKA PROFESIONAL silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini
Etika Profesional
AUDITING dan PROFESI AKUNTAN PUBLIK
AUDITING dan PROFESI AKUNTAN PUBLIK.
AUDITING didefinisikan sebagai proses sistematik pencarian dan pengevaluasian secara obyektif bukti mengenai asersi tentang peristiwa dan tindakan ekonomik untuk meyakinkan kadar kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Perbedaan dan hubungan antara AUDITING dengan Akuntansi.
Sekalipun auditing dan akuntansi saling berkaitan, namun kedunya berbeda satu sama lain.
Peran AUDITING
Kontribusi auditor independen adalah membubuhkan kredibilitas atas informasi. Dalam hal ini kredibilitas berarti bahwa informasi dapat dipercaya sehingga bisa diandalkan oleh pihak luar seperti pemegang saham, kreditor, pelanggan, dan pihak yang berminat lainnya.
Jenis AUDITING
AUDITING biasanya diklasifikasikan ke dalam tiga kategori : audit laporan keuangan, audit ketaatan, dan audit operasional.
Jenis Auditor
Dalam AUDITING, Auditor biasanya digolongkan ke dalam tiga kategori : Auditor External, Auditor Internal, Auditor Pemerintah
Jasa perikatan yang dilakukan oleh kantor akuntan publik
Setiap jasa perikatan ( engagement service ) dapat diklasifikasikan sebagai perikatan atestasi dan perikatan nonatestasi.
Untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai materi AUDITING dan PROFESI AKUNTAN PUBLIK silahkan download materi selengkapnya dengan mengunduhnya di link di bawah ini